Mencari… dan mencari + laptop si unyiiiilll!!!

10 04 2008

Agak aneh untuk menjelaskan sesuatu yang seperti ini.

Maksudku… sesuatu yang tidak cukup ‘penting’ untuk dibicarakan. Meski ini cukup memenuhi pikiranku hari2 terakhir ini.

Architectimage Okay… hari2 yang bertambah sibuk, dengan berbagai klien dan pekerjaan yang tiada henti. Rasanya sudah cukup tepat waktunya untuk punya karyawan. Jadi aku mencari karyawan. TIDAK SEMUDAH YANG KUKIRA.

Rupanya dengan menempel di tembok (maksudnya nempel pengumuman) saja belum bisa menarik perhatian para pencari kerja. Ada yang melamar, ada yang sudah diinterview… tapi belum pas juga.

Satu, bila terlalu tua, penuh masalah2 hidup, agak bangkotan, susah dikasih tau kerjanya harus seperti apa. Hmmmmm dengan yang ini rupanya aku harus banyak teriak2….

Dua, bila terlalu muda, fresh grad, masih harus ngasih2 tau seabreeek… dan gitu juga dia masih mikir2… kerja nggak, kerja nggak, kerja nggak? …… hhhhh capede

Yup, bisnis jalan tapi mencari resource yang tepat bukan hal yang mudah. Mungkin dengan sharing ini para pembaca jadi ngerti apa yang saya alami ini. Mencari pekerja bukan hal yang gampang. Tapi aku masih musti mencari lagi.

bikin stres aja

SOre ini
Haha…!! haha!!
lucu…

Laptopsiunyil tit tut tit…
“Halo? halo?”
“selamat sore pak, ini kami dari Trans7, dari program anak Laptop si Unyil. Ini dengan bapak siapa?”

“Saya Probo”

“Oh ya pak Probo. Pak kami mau tanya, selama ini sudah pernah mengerjakan interior kamar anak ya pak? Soalnya kami sedang mencari narasumber yang biasa mengerjakan interior kamar anak”

“O, kamar anak? Selama ini saya belum ya, mengerjakan interior kamar anak yang spesifik. Tapi kalau rumah tinggal ya ada beberapa yang sudah dikerjakan”

“Kalau membangun rumah itu, dari awal menggambar rancangannya sampe selesai berapa lama pak?”

“Ya tergantung, untuk mendesain rumah kira2 paling lama 2 bulan. Kalau membangun ya tergantung besar rumahnya juga. kalau kecil bisa sekitar 6 bulan. Kalau besar ya sampe 8 bulan.”

“Kalau interior kamar anak biasanya berapa bulan jadinya ya pak?”

“nah itu… saya belum pernah kerjakan interior kamar anak. Tapi kalau kamar anak yang jadi satu pas membangunnya dengan rumahnya, biasanya saya kasih saran warnanya yang sesuai untuk anak”

“o ya… kalau begitu….”

“Nah terus ini mbak, saya mau tanya. Acara laptop si Unyil kok kemudian wawancara arsitek?”

“Oh ini bukan wawancara pak. Hanya kami ingin tahu saja untuk referensi acara laptop si Unyil tentang mengerjakan desain interior untuk kamar anak”

“O begitu”

“kalau begitu terimakasih pak. Selamat sore”

“selamat sore”





A faith confession

10 04 2008

If I ever loose my faith

Faith I don’t know where to start, when it’s about faith. Since a faith for me has no beginning, and no end. God has given me a faith I cannot fully accomplish. Instead of reading only the Qoran, I read the Bible, too. And I still feel I am in a quest….

of meaning of life. Since I thought once I have faith, I can be the strong person that I wanna be. But faith is fading inside myself, because of life, even once I found in religion. So, wether I try to seek for happiness or meaning, there has never been a faith like religion.

But then when I loose my religion, the emptiness is just too cold and scary. I am afraid of the dark side inside myself, afraid of falling into the darkness of a human’s heart.

I’m seeking riches, materials… and hope to find a happiness inside tangible objects, hoping that I will have the best car, the best house, the best wife, the best education, the best service from other people. And then I feel that it’s so fake. When I see masks of these people around me…

And then I suddenly realize, materials can never give me satisfaction or happiness, it was faith that give me satisfaction and happiness. All these things have no meaning, if I don’t have a faith.

A faith to you, a faith to me, a faith to God.

A faith to keep me, in the sunshine.





masuk koran lagi

14 08 2007

 

Mereka menelepon lalu membuat janji, begitulah wartawan, sambil berkata ‘Deadlinenya besok, jadi hari ini musti ketemu’. Well, itu yang terjadi hari ini. Saat aku hendak menggambar untuk seorang klien, seorang wartawan menelepon dan berkata ia butuh saya untuk diwawancara. Saya bilang, OK, saya tidak keberatan.

Pada jam yang ditentukan saya datang dan setelah menunggu setengah jam (masih dengan jam karetnya) pembicaraan dimulai. Saya tidak keberatan menunggu setengah jam, karena saya bisa menyaksikan sibuk-sibuknya orang kantor pemberitaan koran ini. Lalu lalang tanpa say hi dengan cangkir-cangkir minuman mereka, menghadap komputer dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Orang-orang ini cukup menarik perhatian saya, karena mereka bekerja, dan saya tidak. Lagipula pakaian saya menunjukkan saya bukan orang bekerja. Well, mungkin karena kebanyakan duduk di kantor, orang-orang ini mulai berubah sifatnya. Mereka menjadi lebih… terbiasa dengan apa yang ada. Tak lama, si wartawan datang, seorang cewek berkerudung, yang saya pikir adalah tipe cewek yang rajin dan mandiri. Ia menyapa saya dengan hangat dan kami mulai duduk. Proses wawancara dimulai.

Bla..bla..bla.. saya berbicara sesuai pertanyaan yang ia ajukan. Hanya sedikit pertanyaannya, tentang arsitektur rumah, namun jawaban saya lebih banyak. Pembicaraan banyak tentang rumah yang saya rancang dan barusan saja selesai dan sudah ditempati penghuninya.

Begitulah, duduk dan berbicara, orang-orang di seluruh kota akan mendengarkan apa yang saya katakan besok. Saya mulai menyadari bahwa ini boleh jadi bisa menjadi sebuah rutinitas. Rutinitas apa? Rutinitas untuk menjadi seorang pembicara, berbicara dan berbicara tentang bidang yang saya geluti; arsitektur.

Sudah beberapa kali saya diwawancara, sebagian oleh wartawan ibukota, yang ingin pendapat saya didengarkan sekali lagi, dan lagi. Untuk sementara saya ingin menyelami apa yang terjadi, barangkali saya mempertanyakan suatu keabsahan pendapat, bahkan pendapat saya sendiri.

Karena saya kuatir bahwa apa yang saya katakan kurang berkenan atau kurang bermanfaat. Hal inilah yang membuat saya lebih sering diam tanpa berkata-kata, meskipun saya bisa mengatakan sesuatu tentang sesuatu… Ada pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa terjawab oleh saya, meskipun saya sudah memberikan jawaban bagi banyak orang. Saya masih mencari setitik perumpamaan Tuhan agar saya bisa megerti lebih banyak, tentang dunia ini. Dalam perjalanan seorang manusia yang belum mencapai tempat tertingginya (adakah tempat tertinggi itu?) saya lebih banyak diam dan berpikir. Sementara itu saya melihat lebih banyak orang berbicara tanpa berpikir. Sungguh unik memang, si manusia itu.

Baik saya maupun mereka, pendengar dan yang didengar, orang kota dan orang desa, siapapun itu didunia ini mencari kehidupan dengan seluruh daya upaya, kadang tidak untuk apa-apa. Sungguh menakutkan, bila seseorang hanya hidup, namun tidak hidup karena terburu mati sebelum ia menyadarinya.





Jadi Bos…

14 08 2007

Hari yang cerah, matahari pagi menyinari kamarku dan membangunkan tidurku. Beberapa pikiran sisa kemarin mulai lagi hinggap menggerayangi pagi ini. Well, life is full with thoughts… at least for me.

Setelah mencoba lagi mencari seorang kandidat untuk karyawan astudio, dengan membuat iklan koran yang ditanggapi dengan serius oleh beberapa orang, saya mulai menerima setidaknya sekitar 15-20 pelamar… entahlah saya tidak hitung lagi berapa. Beberapa orang lebih tua daripada saya, umurnya ada yang 33 tahun, 35 tahun… Saya jadi berpikir, kok mereka masih mencari kerja ya?

Aneh juga. Sedangkan saya kok membuat pekerjaan. Beda kali ya? Hehe.. Nampaknya seperti situasi yang harus saya sendiri lihat dengan seksama. Baiklah, saya mungkin masih 28 tahun, tapi saya sudah jadi bos kan? Well, setidaknya bos kecil gitu loh.

Jadi saya berpikir ntuk mengambil salah satu mereka jadi karyawan. Adik kelas saya ada beberapa. Mereka ini fresh graduate. Saya jadi ingat waktu saya fresh graduate dulu. Bukannya cari kerjaan, saya justru pontang-panting bikin kerjaan sendiri. Lari sana lari sini, hanya agar saya dapat koneksi dengan bisnis saya.

Tapi bukannya mau nyombong lho, dan saya juga nggak mau klo diri saya jadi sombong. Saya bisa beli benda-benda, kendaraan, gaya hidup yang saya dulu ingiiiiin sekali. Well saya ingin bagi sedikit rahasia ya… Sekalipun dapet semua itu, saya belum merasa puas juga. pengen lagi dan lagi.

Mungkin ini yang dinamakan manusia tidak pernah puas.

NB: Oh ya, bukuku yang baru berjudul ‘Inspirasi rumah sehat di perkotaan’ diberitahu oleh penerbit sudah diterbitkan dan mereka baru kirim sample ke aku kemarin. Wah, harap2 cemas seperti apa buku itu jadinya. Mungkin hari ini atau besok sample buku itu datang. Pastilah saya share dengan Anda.