Menjadi penulis buku di Indonesia; Masih dirugikan penerbit (?)

26 11 2008

Buat Anda yang ingin menulis buku, tunggu sebentar. Anda harus baca tulisan saya ini sebelum memutuskan jalan terbaik yang Anda pilih.

Saya seorang penulis buku, sejak tahun 2006 sudah menulis 4 buku. Dan ada beberapa draft buku di komputer saya, yang belum saya selesaikan. Selain karena kesibukan dengan pekerjaan mendesain rumah tinggal, juga karena saya sedang merencanakan cara-cara lain untuk mempublikasikan buku-buku saya.

Apa yang menjadi ganjalan adalah karena iklim penerbitan di Indonesia masih belum berpihak pada penulis. 10% royalti mungkin hanya bisa dipakai makan selama sebulan dan setelah itu kita harus cari makan sendiri dengan bekerja lainnya. Menulis menurut saya belum bisa dijadikan sebagai mata pencaharian. Masalah utama bukan pada penulis, tapi penerbit. Apa saja masalah yang bisa terjadi dengan penerbit?

  1. Penerbit, setelah menyatakan mau menerbitkan naskah kita, tiba-tiba membatalkan penerbitan. Alasannya; pertama mungkin karena dia tidak ada biaya menerbitkan, atau sedang ada masalah dalam perusahaannya, atau secara sederhana ternyata penerbit berpikir buku Anda belum layak jual dari sisi ekonomi.
  2. Penerbit membutuhkan waktu lama untuk menerbitkan buku. Pengalaman saya dengan penerbit; setidaknya butuh 4-5 bulan menunggu buku kita muncul di pasaran. 
  3. Buku terbit tapi tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kadang-kadang karena tidak teliti atau tidak pahamnya redaksi penerbit atas naskah kita, mereka menghilangkan atau merubah isi naskah yang penting atau bagian vital dari buku. Pengalaman saya; kredit gambar (keterangan gambar foto milik siapa) yang seharusnya tampil dalam buku saya dihilangkan begitu saja oleh redaksi penerbit. Dalam hal ini saya merasa malu dengan pemilik obyek yang saya foto atau pemilik gambar-gambar tersebut karena mereka bisa saja mengira saya tidak mencantumkan kredit mereka. 
  4. Penerbit tidak transparan dalam laporan jumlah buku yang terjual. Nah inilah yang paling tidak enak untuk penulis, karena disini letak penulis dihargai secara material. Sudah royalti kecil (10%), kena pajak penulis 2,5% (pemerintah rupanya juga belum berpihak pada penulis), hasil penjualan ga jelas, royalti ga jelas pula. Inilah faktor utama kita masih dirugikan penerbit, dan menjadi penulis masih belum bisa menjadi sumber penghasilan utama di negeri ini.
  5. Copyright atau hak penerbitan secara default selalu diklaim oleh penerbit. Bila kita ingin menerbitkan kembali suatu saat akan menemui kesulitan karena sudah ada kontrak yang mengikat kita dengan penerbit eksklusif ini. 

Meskipun demikian, kita kenal penerbit-penerbit besar yang cukup baik managemennya dan bisa berlaku adil terhadap penulis. Penerbit ini biasanya yang sudah mapan dan besar. 

Sekarang ini, saya mencoba berpikir agar menulis yang kita lakukan dengan susah payah tidak terlalu dipakai sebagai sapi perahan bisnis semata oleh penerbit. Salah satu caranya adalah dengan menerbitkan sendiri buku-buku kita, atau mencari investor yang mau menjadi penerbit kita dengan perjanjian yang lebih menguntungkan. Hal ini masih saya usahakan.

Cara lain yang saya ingin lakukan adalah mendapatkan hak eksklusif agar copyright ada di tangan kita sebagai penulis. Kita harus mampu menawar hak penerbitan jangan sampai hanya dimiliki oleh satu penerbit saja, tapi usahakan kita bisa memilih penerbit mana yang akan menerbitkan buku kita. 

Saya memang belum menggunakan cara terakhir, tapi salah seorang teman penulis saya mengatakan ia mendapatkan kontrak dua tahun bekerjasama dengan salah satu penerbit. Menurut saya ini cara yang sangat baik karena dengan demikian setelah dua tahun, ia bisa memilih penerbit lain bila ingin merevisi atau menerbitkan ulang buku tersebut. Saya mulai menyadari bahwa penerbit selalu mengajukan hak eksklusif penerbitan agar ia mendapatkan keuntungan terbanyak dari penulis untuk kepentingannya sendiri. 

Cara lain lagi yang sedang saya buat saat ini; mencoba menawarkan naskah kita ke penerbit luar negeri. Saat ini saya sudah menyelesaikan sebuah naskah buku berbahasa Inggris tentang sebuah topik yang cukup populer dan saya akan mendapatkan jawaban kepastiannya hari ini juga. Inilah hebatnya penerbit luar negeri; mereka bisa mereview naskah buku hanya dalam waktu 24 jam dan memutuskan untuk menerbitkannya atau tidak. Lain dengan penerbit di Indonesia yang setidaknya butuh 2 bulan ;-)

Bila cara saya ini berhasil, maka saya akan menjadi penulis internasional. Doakan saya ya. 

Bila berhasil, saya akan sharing dengan Anda.





Buku ‘Time to Change’ karya pak Hari Subagya

19 10 2008

 

Hari ini saya ingin memulai perubahan.

Anda tahu? kalau bisnis berjalan terus sedangkan pribadi kita tidak? Sepertinya saya mengalami itu selama beberapa waktu ini. Jadi saya kembali pada metode lama yang saya pakai dalam menguatkan kembali pribadi saya untuk masuk lagi dalam bisnis.

 

Metode saya adalah menyerap informasi dan pengetahuan orang lain agar saya bisa berubah. Hari ini saya membeli buku “Time to Change in Selling” karya pak Hari Subagya. Buku ini menarik saya sejak pertama saya melihatnya di toko buku. Isinya menarik dari sekilas saya membacanya, dan tidak terlalu mendasar yang penuh dengan teori dan menguras banyak energi untuk mengerti apa yang dibicarakan. Cocok untuk orang yang sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan, sehingga bisa langsung mempraktekkan tips itu. 

 

Buku untuk perubahan bisnis

Buku untuk perubahan bisnis

 

Salah satu tips dalam bukunya yang saya baca tadi di toko buku adalah penyebab kita kurang produktif. Saya akui memang akhir2 ini saya kurang produktif dan saya seperti diingatkan. Salah satu sebabnya adalah karena kita sibuk browsing hal2 tidak perlu di internet. haha…. kena lah saya.

 

Hal2 lain yang perlu saya baca pada pagi hari sepertinya bisa saya dapatkan di buku ini. Terimakasih pak Hari. Saya memang perlu untuk diingatkan agar produktivitas saya meningkat, dan pasti juga dengan semua pebisnis lain diseluruh dunia. 

 

Website pak Hari Subagya dan video profilnya bisa dilihat di http://bisnispartner.com/





update terbaru fasilitas google untuk kemudahan Anda

10 10 2008

 

Coba lihat screen capture laptop saya:

Diatas, terlihat saya menggunakan google chrome (itu browser google yang terbaru setelah firefox), yang menurut saya lebih canggih dari firefox ataupun internet explorer. Yup, google lagi menggila dengan fitur-fitur barunya yang ditawarkan secara gratis. berikut ini layanan google yang saya gunakan:

  • Google blogspot untuk blogging (webnya yang terlihat di capture screen diatas. Keren kan?). Blogger benar2 menggratiskan semuanya yang akhirnya menjadi cms yang menurut saya sangat baik, kalau nggak paling baik saat ini. Coba lihat hasilnya di www.astudioarchitect.com 
  • Google talk untuk memberi fasilitas chatting di web saya, serta menggantikan yahoo messenger (yang makin jarang saya gunakan)
  • Lihat di sebelah kiri screen capture saya: itu adalah google desktop. Disini saya bisa melihat webcam (kamera real time) dari seluruh dunia. Artinya tiap beberapa detik sekali gambar itu berganti2… ada pemandangan dari Itali, Inggris, Amerika, Jepang, Hawaii, New york, Dubai, dan sebagainya. Semua gambar itu diambil SAAT INI JUGA, yang berarti saya tahu kondisi berbagai tempat diseluruh dunia dengan melihat webcam ini
  • Dibawahnya, ada daftar update terbaru dari detik.com yang direfresh tiap 10 menit sekali. Saya terhubung dengan berita terbaru paling penting di Indonesia. Saya kebetulan lagi sangat senang mengikuti perkembangan krisis moneter akibat imbas Amerika…
  • Lalu di google desktop jg ada ‘things to do’ alias agenda yg musti saya kerjakan dan bisa saya update/hapus dan terus mengingatkan saya
  • di bagian atas sendiri; ada update berita teknologi informasi yg terus menerus berganti. Ada berita tentang Google meluncurkan video game, berita tentang Apple, dsb. 

Pendeknya, saya benar2 terhubung dengan dunia melalui google sekarang… bukan lagi dengan yahoo seperti 10 tahun lalu. Ini eranya Google.

Hebatnya mbah Google ini merangsang saya untuk tidak menyia2kan kesempatan ini untuk terus berkarya. Makasih ya mbah…





membuka usaha baru di internet

25 09 2008

Para pembaca blog berjibaku…

saya belum membuat postingan lagi sejak terakhir saya berencana membuat distro. Sekarang saya beri tahu hasilnya; kurang bagus. Kurang lancar, atau boleh dibilang; belum berhasil. Tapi itu adalah bagian dari usaha yang barangkali masih perlu disempurnakan lagi nantinya. Saya yakin saya hanya kurang dalam berikhtiar, karena waktu saya sangat banyak saya curahkan untuk bisnis konsultan.

Meskipun sekarang ini saya punya partner dalam bekerja, yang menurut saya cukup membantu untuk ‘membelah’ pikiran saya yang kemarin tercampur-campur tidak karuan gara-gara mengurusi berbagai aspek dalam bisnis saya. 

Ceritanya, ada seorang teman kuliah yang memang dari dulu ingin bergabung dengan konsultan yang dulunya dirintis bersama-sama dengan teman-teman yang lain. Sebenarnya dia menunggu hingga dia bisa melihat iklim bisnis berjalan baik. Kemudian ia masuk dalam konsultan saya (karena, hingga terakhir, saya menjadi single fighter gara2 semua partner2 saya sebelumnya memilih bekerja, daripada berusaha).

Yah.. begitulah.

Saat ini ada lagi yang ingin saya rintis. sebenarnya saya ingin berbagi disini, tapi ketimbang malu seperti kemarin sudah bercuap2 mau bikin distro ternyata nggak jadi :D

Jadinya sekarang biarlah saya coba untuk menjalankan dulu bisnis ini sambil melihat apakah dia bisa jalan sebaik bisnis induk saya. Tapi menurut saya ini musti menunggu dalam jangka waktu yang agak lama sebelum berhasil. Basic bisnis ini adalah internet bisnis. 

Sekedar sharing saja, semenjak teman saya masuk di biro konsultan saya, segalanya musti sharing, termasuk pendapatan. Tapi saya diyakinkan oleh rekan saya ini, bahwa rejeki banyak kepala itu beda dengan satu kepala. Saya cukup merasakan hal itu terjadi. Meskipun saya bukan tipe orang yang bisa memaksa orang untuk berkerja sekeras saya.

Betul itu. Bekerja keras. 

Saya bukan berasal dari keluarga kaya. Orangtua saya hanyalah PNS yang hidup bersahaja namun buat saya sudah sangat sangat memuaskan. Kami hidup dengan ketahanan hidup yang sangat tinggi, artinya; berusaha hidup pas dengan gaji PNS :D

Seingat saya dulu kami harus berbagi satu telur untuk banyak orang. Di keluarga kami ada 5 anak, dan saya paling bungsu. Kesemuanya sekarang sudah bekerja dikotanya masing2, dan saya saat ini masih berstatus ‘mengusahakan’ sebuah kemapanan finansial.

Sungguh sebuah kesyukuran diri saya karena saya tidak harus menderita karena kekurangan makanan. Dulu memang pernah kami kekurangan uang, karena semenjak Bapak meninggal, ibu saya harus membesarkan 5 orang anak, dan akibatnya banyak hutang. Dulu sering ibu saya kehabisan uang sama sekali sehingga beliau memberi uang saku saja tidak bisa.

Keadaan sekarang agak lain. Kakak-kakak saya sudah punya rumah, tanah, mobil sendiri-sendiri. CUma saya yang belum (Doakan yah :D ). Ibu saya juga sudah naik haji (ini juga saya salut pada beliau)

Namanya juga berusaha. Apalagi kalau orang seperti saya ini yang sudah memutuskan tidak bekerja pada orang, tapi bekerja sendiri, segala resiko ditanggung sendiri, termasuk bila usaha yang dilakukan gagal. Tapi itu tidak masalah bagi saya. Saya siap.

Semoga saja bisnis baru saya di internet bakalan berhasil. Saya musti menunggu hingga satu tahun sehingga bisnis ini bisa membiayai dirinya sendiri dan memberikan dampak positif… bagi keuangan saya. ehehe…

 

Salam sukses.

Probo Hindarto





Aksi gila di lampu merah

25 05 2008

Okay…

Malam ini malam terakhir pameran SAMM di sebuah Mall. Aku hanya ikut pada hari2 terakhir yang cukup melelahkan… tapi memang hari2 yg menyenangkan. 3 hari berturut2 ini aku bedah buku, presentasi sponsor cat, bantu2 dosen presentasi… lihat film arsitektur… pergi ke Malang kembali sama anak2 SAMM dan nyeruput dawet… Hmmm… besok kuharus kerja lagi… desain lagi… pusing2 lagi… beberapa hari sebelumnya, aku sengaja ‘menghilang’ dari peredaran anak2 SAMM, ngerasa sedikit frustasi… “Lhoo tentang apa frustasinya??” tanya anak2… “Ahh, nggak penting kok, cuman frustasi ajah”

Aku ga mengira juga, berhubung selama ini aku mengasuh konsultasi via media koran di Kalimantan dan SUmatera. Ternyata aku terkenal juga disana… fotoku terpampang di salah satu poster besar di pelabuhan/airport di Kalimantan… tertulis; “Konsultasi desain rumah bersama Probo Hindarto” kira2 begitu. Kabarnya temanku namanya Bima yang barusan ke Kalimantan melihatnya…. Whuuupss… yang bener? Aku sepopuler itu kah?

Setelah acara selesai… diajaknya aku ama anak2 ke warung mbah Jayus… Hoooaaahhh!! sambel nikmaaat sekali! Baru kali ini aku ke warung dan merasa masakannya nikmat sekali! Padahal itu hanya warung “tempe penyet”, atau lalapan tempe yang diberi ulekan sendiri dengan lombok sesukanya. Apa ya yang bikin enak?? apa karena yang bikin nenek2 tua?

Balik lagi ke mall, ikutan mengusung barang2 pameran ke depan mall, sembari menunggu teman dapat carteran mobil buat ngangkut barang2… isPicture0238_1eng2 kubuka laptop dan terjadilah sedikit kegilaan

Mungkin karena euforia malam ini masih terasa… Picture0117Picture0155 Picture0256
Bayangkan aja… orang2 umur 20-30an pada foto2 narcis di pertigaan lampu merah… berapa orang mengira kami orang gila???

Acara selanjutnya di SAMM udah didengungkan Samoke, dedengkot SAMM (upsss. sori sam, maksudku pioneer SAMM)

Picture0181 Overall, satu lagi acungan jempol saya ke anak2 SAMM… kalian hebat





Mencari… dan mencari + laptop si unyiiiilll!!!

10 04 2008

Agak aneh untuk menjelaskan sesuatu yang seperti ini.

Maksudku… sesuatu yang tidak cukup ‘penting’ untuk dibicarakan. Meski ini cukup memenuhi pikiranku hari2 terakhir ini.

Architectimage Okay… hari2 yang bertambah sibuk, dengan berbagai klien dan pekerjaan yang tiada henti. Rasanya sudah cukup tepat waktunya untuk punya karyawan. Jadi aku mencari karyawan. TIDAK SEMUDAH YANG KUKIRA.

Rupanya dengan menempel di tembok (maksudnya nempel pengumuman) saja belum bisa menarik perhatian para pencari kerja. Ada yang melamar, ada yang sudah diinterview… tapi belum pas juga.

Satu, bila terlalu tua, penuh masalah2 hidup, agak bangkotan, susah dikasih tau kerjanya harus seperti apa. Hmmmmm dengan yang ini rupanya aku harus banyak teriak2….

Dua, bila terlalu muda, fresh grad, masih harus ngasih2 tau seabreeek… dan gitu juga dia masih mikir2… kerja nggak, kerja nggak, kerja nggak? …… hhhhh capede

Yup, bisnis jalan tapi mencari resource yang tepat bukan hal yang mudah. Mungkin dengan sharing ini para pembaca jadi ngerti apa yang saya alami ini. Mencari pekerja bukan hal yang gampang. Tapi aku masih musti mencari lagi.

bikin stres aja

SOre ini
Haha…!! haha!!
lucu…

Laptopsiunyil tit tut tit…
“Halo? halo?”
“selamat sore pak, ini kami dari Trans7, dari program anak Laptop si Unyil. Ini dengan bapak siapa?”

“Saya Probo”

“Oh ya pak Probo. Pak kami mau tanya, selama ini sudah pernah mengerjakan interior kamar anak ya pak? Soalnya kami sedang mencari narasumber yang biasa mengerjakan interior kamar anak”

“O, kamar anak? Selama ini saya belum ya, mengerjakan interior kamar anak yang spesifik. Tapi kalau rumah tinggal ya ada beberapa yang sudah dikerjakan”

“Kalau membangun rumah itu, dari awal menggambar rancangannya sampe selesai berapa lama pak?”

“Ya tergantung, untuk mendesain rumah kira2 paling lama 2 bulan. Kalau membangun ya tergantung besar rumahnya juga. kalau kecil bisa sekitar 6 bulan. Kalau besar ya sampe 8 bulan.”

“Kalau interior kamar anak biasanya berapa bulan jadinya ya pak?”

“nah itu… saya belum pernah kerjakan interior kamar anak. Tapi kalau kamar anak yang jadi satu pas membangunnya dengan rumahnya, biasanya saya kasih saran warnanya yang sesuai untuk anak”

“o ya… kalau begitu….”

“Nah terus ini mbak, saya mau tanya. Acara laptop si Unyil kok kemudian wawancara arsitek?”

“Oh ini bukan wawancara pak. Hanya kami ingin tahu saja untuk referensi acara laptop si Unyil tentang mengerjakan desain interior untuk kamar anak”

“O begitu”

“kalau begitu terimakasih pak. Selamat sore”

“selamat sore”





Plung! Bola masuk lubang

18 03 2008

Itu impressi saya tentang Bilyard, ternyata menyenangkan juga bermain bilyard.  Satu demi satu bola masuk kedalam lubang, rasanya seperti…. ahhh…. (apaan sih?)

Kupandangi ruang itu, penuh laki2 muda seperti saya dengan stik dan keinginan memasukkan bola2 itu kedalam lubang. Ada pertanyaan… mengapa ya disini mayoritas laki2? Mengapa tampaknya memasukkan bola kedalam lubang adalah hobi para laki2?? (teringat sesuatu?)  Kalaupun ada wanitanya mungkin mereka menemani si pria dan teman2nya, atau para penata bola. Hmmm… rupanya saya tahu dimana para wanita sedang berkumpul dengan hobi selain bilyard. Tentu saja arisan! Dan acara kumpul2 dimana mereka bisa menggosip!

Oh ya, arisan tentunya bukan monopoli kaum hawa saja. Saat ini kaum adam juga melakukannya, tapi topiknya lain; arisan motor, atau arisan bertema maskulin lainnya. Lagipula pembicaraan di kalangan laki2 pasti berbeda dengan di kalangan wanita. Para laki2 membicarakan mobil dan motor, atasan dan bawahan, siapa yang menjadi pencetak rekor penjualan bulan ini, pertandingan sepakbola tadi malam, dsb. Para wanita membicarakan mode baju terkini, masakan kesukaan dan resepnya, kondisi psikologis dalam rumah mereka, teman wanita yang dandanannya nggak matching… Woops, ini posting tentang gender?

Saya teringat dulu ada teman wanita yang feminist, dia banyak berdiskusi dengan saya tentang diskriminasi gender… tentang wanita yang dijajah pria, tentang ketidaksetaraan pendidikan dan jabatan, tentang ini… tentang itu… tentang mengapa wanita selalu menjadi pihak yang lemah. Dia ingin wanita setara dengan pria. Mengapa wanita sulit maju?

Jadi dia membenarkan aksi demo tentang kesetaraan gender, dia membenarkan perlawanan pada diskriminasi gender. Saya membenarkan teman ini, dan saya tahu saya tidak bisa berargumen dengannya. Never argue women… they’re always right!

Tapi saya merasa mereka para wanita juga menggunakan cara2 maskulin untuk menunjukkan keinginan untuk setara dalam gender… Stop disini saya belum bisa menjelaskan lebih jauh.

Tapi entah mengapa rasanya sebagai laki2… ada rasa senang ketika memasukkan bola kedalam lubang. Wonder why?





menjadi seorang penulis

25 12 2007

So much thing to tell, so little time

Bu Ratna, seorang penulis cacat di Malang, pertemuan dengannya sangat inspiratif. Ia menulis lebih dari 400 cerpen dan puluhan novel. Ada pula banyak penulis yang saya buka websitenya pagi ini. Diantara cerita2 di blog mereka saya tahu, mereka punya hal-hal yang kurang lebih sama dengan saya; masalah2 seorang penulis buku.

Well, untuk menulis buku, saya tidak perlu ritual khusus, hanya sedikit malas saja di banyak waktu. Kebanyakan proyek bulan-bulan lalu membuat proyek buku saya banyak terhambat. Pagi ini, dan beberapa hari kemarin saya mulai menulis, karena Tuhan ‘menyelamatkan leher saya’ sekali lagi, saya butuh sedikit dana hari-hari ini dan untungnya Tuhan beri rejeki yang baik.

Untuk menulis, setidaknya saya butuh suasana yang tepat. Artinya, jauh dari kebisingan, jauh dari teman2 yang suka humor, dan berhadapan dengan laptop saya, kebanyakan waktu segala pikiran yang bisa dituangkan dalam buku segera mengalir begitu saja. Pernah saya heran, sehari saya menulis 5 halaman buku, lalu saya sedikit terganggu dengan pikiran saya sendiri; “Darimana semua kata2 yang barusan saya tuliskan itu datang?”… hehe… aneh ya

Mungkin pikiran2 itu mengendap dalam pikiran terdalam saya, dari bacaan-bacaan, hasil merenung, percakapan, dan sebagainya. Saya sendiri sudah kenal diri sendiri; saya sering menyimpan sebuah topik dalam benak saya, entah itu di jalan, waktu berbicara dengan teman, waktu di mall, entahlah… kadang saya berpikir tentang suatu topik saat saya sedang melakukan sesuatu yang lain.

Jadi kelihatannya sewaktu saya berhadapan dengan laptop, pikiran2 yang sudah ‘digodok’ itu muncul dan mengalir melalui jari2 saya. kebetulan saya menulis dengan 10 jari, dan saya tidak perlu melihat keyboard untuk mengetik. Sebagai gambaran, kemarin malam saya mengetik, sambil tiduran dan mata terpejam, dengan memangku laptop di paha saya. Saya pikir itu aneh sekali bukan?

Kadang2 teman2 saya ada yang heran karena saya mengetik sambil berbicara dengan mereka atau sambil melihat keluar jendela, misalnya.

Seperti pagi ini, hari Natal. Saya tidak merayakan natal, tapi saya sedang menulis sambil ditemani musik klasik; Beethoven, Bach, Mozart, Schubert, Debussy, dan kawan kawan. Denting2 piano, gesekan biola, tarikan trumpet menghiasi pagi yang cerah ini,… Dan saya masih mendengar sayup2 suara dangdut dimana2 dikampung ini.

menulis… sebuah kenikmatan buat saya.





orang-orang yang di PHK dan kemampuan wirausaha

25 10 2007

Masih tetap dengan beberapa kesibukan sehari-hari, yang terasa seperti ‘pekerjaan’ bukan sebuah ‘bisnis’ lagi. Rencana saya membuat bisnis baru tetap berjalan. Ada hal-hal yang masih dilakukan, yaitu menyiapkan infrastruktur.

Infrastruktur adalah sebutan pribadi saya untuk hal-hal yang mendasari sebuah bisnis, misalnya alat-alat, produksi, orang-orang, dan sebagainya agar sebuah usaha bisa berjalan lancar.

Saya menulis ini sambil melihat TV, melihat berapa banyak orang diluar sana sedang memperjuangkan sebuah pekerjaan. Orang-orang di PHK, mencari kerja di kota tanpa kemampuan, penangkapan pencari kerja tanpa keterangan tempat tinggal, dan sebagainya. Banyak permasalahan terjadi di sekitar kita akibat buruknya situasi ekonomi saat ini. Saya pikir sangat penting untuk mengembangkan ketahanan dalam kehidupan wirausaha bagi setiap orang. Apakah itu menarik becak, menjual makanan, dan sebagainya adalah hal-hal sederhana yang dapat menumbuhkan ketahanan ekonomi kelas bawah.

Namun bagi mereka yang memiliki pendidikan, sangat memprihatinkan bila mereka tidak daapt bangkit bila di PHK dari perusahaan mereka. Seperti yang terjadi pada beratus orang di perusahaan investasi Jepang. Sangat mudah bukan bagi para pemilik perusahaan untuk menutup perusahaan? Sementara bagi para buruh, mereka tidak memiliki ketahanan untuk mengatasi situasi ini, kecuali menunjukkan emosi mereka dengan berdemo.

Saya pikir, dari sisi entrepreneurship, di PHK justru merupakan sebuah jalan untuk menuju penciptaan lahan kerja atau wiraswasta baru bagi mereka yang di PHK, sehingga mereka bisa berdikari. Masalahnya, sebagian orang tidak memiliki kemampuan, ketahanan, dan cara berpikir yang dibutuhkan untuk berwirausaha, karena mereka tidak mendapatkan pendidikan wiraswasta, atau tidak mengembangkan diri dalam pengetahuan wiraswasta.

Saya tidak prihatin pada orang-orang yang di PHK, hanya saya prihatin dengan orang-orang diPHK yang tidak dapat bangkit kembali, …





Kegagalan dalam berusaha atau berbisnis

9 10 2007

Entah berapa kali saya gagal dalam berusaha, mungkin sudah puluhan kali. Hal ini karena sejak pertama kali saya memutuskan ber’usaha’ sendiri, saya membuat sedikitnya 12 jenis rencana usaha yang ingin saya lakukan. Gila memang, kalau saya pikir, waktu itu 3 tahun lalu, saya merasa energi saya masih sangat besar untuk memulai sesuatu. Maklum, barusan lulus kuliah.

Dibandingkan sekarang, sebenarnya saya memiliki energi yang sama, hanya lebih sedikit, namun dalam kadar yang sangat hati-hati. Saya tidak begitu saja memutuskan untuk membuka sebuah usaha bila saya pikir tidak prospektif.

Baiklah. Apa saja rencana usaha saya 3 tahun lalu? Saya sebutkan saja diantaranya (yang tidak terkesan bodoh… hehe);

  • Membuat acara televisi, dengan membuat proposal gila yang saya ajukan ke pimpinan sebuah televisi lokal. Saya bahkan sampai hingga tahap meeting dengan pimpinan TV itu langsung. Disetujui namun saya diminta kolaborasi dengan pihak lain. Saya tidak setuju.
  • Membuat majalah gratis yang beriklan, yaitu free magz yang dibagi-bagikan di tempat2 strategis. Untuk ini saya waktu itu bekerja dengan komputer pentium 1 dan mondar-mandir berusaha menemui pimpinan-pimpinan usaha seperti toko, distro, kafe, dan sebagainya. Saya gila, berjuang sendiri dengan penampilan saya mirip2kan dengan sales, namun saya tidak mendapat respon banyak.
  • Membuat usaha web design, saya membagi-bagikan proposal pengadaan website ke berbagai perusahaan yang belum punya website namun sudah memiliki email, yang saya cari di yellow pages. Pertama kali saya ‘nyales’ untuk web design ini, dengan membawa secarik brosur fotokopian, dengan bersandal jepit (BENAR INI), menemui pimpinan perusahaan yang senyum-senyum saja melihat saya, … dia melihat kesungguhan saya namun tidak berminat dengan produk web design saya. Setidaknya saya pikir waktu itu; saya bangga bahwa saya bekerja UNTUK PERUSAHAAN SAYA SENDIRI, bukan untuk orang, meskipun saya belum berpenghasilan.
  • Berbagai ide gila usaha sendiri lainnya.

Orangtua saya harus saya diamkan dulu sebelum 1, 2, 3 jenis usaha sendiri yang saya rancang mulai menunjukkan hasil. Awal-awal usaha jelas adalah masa-masa paling ‘menyakitkan’ sekaligus sangat ‘menggairahkan’ untuk saya, yang harus saya tanggung sendiri. Saya harus mengecewakan ibu saya karena saat pendaftaran CPNS tiba, saya sama sekali tidak berminat dan saya utarakan pada ibu. Saya pernah bekerja tapi hanya sehari langsung tidak betah. Saya sibuk kesana kemari sebenarnya untuk memulai usaha, namun saya sering berkata bahwa saya sedang melamar pekerjaan. Lambat laun orang-orang tahu bahwa saya tidak ingin bekerja. Saya ingin berusaha.

Saat ini, saya memiliki cukup dana untuk memulai berbagai usaha mandiri yang layak dijalankan. Sedikit demi sedikit saya coba jalankan satu persatu. Namun saya tidak pernah berjalan tanpa planning. Saat ini saya mungkin tidak hadir dengan berpuluh-puluh ide usaha, namun saya sekarang hadir dengan sedikit ide usaha yang lebih berpeluang untuk sukses. Mungkin saya lebih menyempitkan lagi ide itu, atau sebenarnya saya menjadi lebih terlatih untuk melihat peluang.

Ini semua mungkin karena satu bacaan yang menggugah saya; yaitu seri Rich Dad Poor Dad karangan Robert T. Kiyosaki. Ya, saya salah satu korban perspektif orang ini, kalau bukan seseorang yang sangat mengagumi Kiyosaki.

Itulah sekelumit cerita tentang diri saya, yang jarang saya bicarakan dengan orang kecuali dengan beberapa teman saja. Saya harap teman-teman diluar sana bisa sharing dengan saya, atau setidaknya saya sharing dengan Anda semua.