cerita kentang pekerjaan yang salah

20 02 2009

Sore ini…
Hujan rintik-rintik, setelah haru didepan mimbar kaca patri sebuah masjid, dibelakang suara ayat berkumandang dari Da’i yang kuhormati. 

Mencari sesuap hotspot meskipun tlah menggembol modem. Diantara sapi-sapi jalanan yang berseliweran disudut mataku, dijendela.

Berjibaku lagi dalam power point bajakan tuk menyeminarkan sesuatu yang basic, yang tak kusuka, sebenarnya. Meng-hot-spot-i istriku si laptop.

Setelah hampir si mentari menyelinap lagi di gunung kawi sebelah barat kotaku, kukeluarlah menyusup diantara beberapa mata sipit yang sibuk berbincang prospek bisnis kafe.

diluar hujan, malas kumemandangnya, berdiri tak ingin kebasahan. Si pelayan kasihan melihatku benci hujan ciptaan Tuhan. Payung terbuka. 

Bla-bla bersama si pelayan. Sepertinya masih muda meskipun angkatan 87. Dulu pernah kul di arsitek di universitas swasta selama setahun, katanya, disuruh orang tuanya pindah ke universitas negeri. “Ngambil pertanian”

Ceritaku membuat matanya berbinar. “Prospek arsitek masih bagus”.

Barusan aku sadar, ini cerita kentang pekerjaan yang salah, karena pilihan orangtua. Sabar aja mas





Aku juga manusia (human… all too human)

22 08 2007

(menghela nafas panjang)

Human… all too human, kata Nietsche. Seorang manusia sejati. Aku bisa sedih, bisa gembira, bisa bloon (kadang), bisa narcist, bisa konyol…

mall seperti pasar menjelang lebaran

Arti manusia baru ada saat dia menghadapi sesuatu yang diluar kemampuannya. Mungkin saat itu muncul seorang manusia sejati. Mungkin ada orang-orang yang lebih baik dari kita, namun mereka berada disana karena bapak mereka, ibu mereka, kakak mereka.

Bila, boleh saya berandai-andai… saat ini saya seorang raja dengan sebuah mahkota, dan saya tidak harus menghadapi hal-hal seperti tetek bengek diatas tanah, mungkinkah saya merasa ‘all too human’? Saat saya merasa menjadi manusia sejati yang begitu bodoh dan rapuh… Mungkin saya berharap menjadi lebih buruk keadaan dibanding sekarang…

Sehingga saya bisa menjadi semakin ‘manusia’ dengan segala daya upaya yang konyol, bodoh, mengada-ada dan beralasan-alasan.

(baiklah… menghela nafas lagi). Seharusnya saya senang dengan keadaan saat ini, apapun keadaan saya, agar saya bisa menjadi seorang manusia yang baik. Setidaknya saya percaya Tuhan dan saya tahu Dia diatas sana… mungkin sedang melihat saya dengan berharap saya bisa melakukan yang lebih baik dari sekarang.

Tiba-tiba saya tahu saya tidak seharusnya mengeluh, sehingga saya bisa merasa bersyukur atas apa yang ada sekarang, dan melakukan aktivitas saya sebagai manusia dengan baik…

menjadi seperti ini lebih baik daripada korupsi

Apakah menjadi tukang becak itu bukan cara hidup yang terbaik? Mungkinkah Anda, saat ini bukanlah Anda, tapi seorang bodoh tanpa pekerjaan, tanpa penghasilan… Mungkin saja itu lebih baik daripada berada disini, saat ini dengan keadaan saat ini, tapi Anda tahu Anda tidak pernah menjadi apa yang Anda inginkan.

Barangkali kita punya uang sebanyak mimpi, 100 milyar, 2 trilyun… tapi kita tahu sebuah kesalahan besar tercipta, misalnya uang itu dari hasil korupsi… mencuri. Sungguh, aku berharap sebaiknya tidak sama sekali.

P.S.

Sedikit iseng, masuklah aku di sebuah studio foto hanya karena tertarik. Dipotret-potret seperti seorang model… hehe aku tau kok mukaku agak ancur (dikit). Kucoba seekspresif mungkin tapi dasar emang manusia biasa, gak bisa deh mirip Tora Sudiro… Hahaha!

Coba lagi hari ini kutemui pak San, seorang mentor penulisan arsitekturku. Dimintanya aku kerjakan sesuatu lagi… cari postgrad di Europe. Aussie begitu mudah menerima, katanya, tapi mereka orang kulit putih yang agak pinggiran. Kemarin ternyata aku kurang persuasif ama orang UK, jadinya kesempatan scholarship menguap deh.

Manusia biasa tidak pernah akan berhenti mencoba!

Jangan biarkan tulisan saya diatas membuat hari Anda menjadi mendung. That’s not what I mean.