cerita kentang pekerjaan yang salah

20 02 2009

Sore ini…
Hujan rintik-rintik, setelah haru didepan mimbar kaca patri sebuah masjid, dibelakang suara ayat berkumandang dari Da’i yang kuhormati. 

Mencari sesuap hotspot meskipun tlah menggembol modem. Diantara sapi-sapi jalanan yang berseliweran disudut mataku, dijendela.

Berjibaku lagi dalam power point bajakan tuk menyeminarkan sesuatu yang basic, yang tak kusuka, sebenarnya. Meng-hot-spot-i istriku si laptop.

Setelah hampir si mentari menyelinap lagi di gunung kawi sebelah barat kotaku, kukeluarlah menyusup diantara beberapa mata sipit yang sibuk berbincang prospek bisnis kafe.

diluar hujan, malas kumemandangnya, berdiri tak ingin kebasahan. Si pelayan kasihan melihatku benci hujan ciptaan Tuhan. Payung terbuka. 

Bla-bla bersama si pelayan. Sepertinya masih muda meskipun angkatan 87. Dulu pernah kul di arsitek di universitas swasta selama setahun, katanya, disuruh orang tuanya pindah ke universitas negeri. “Ngambil pertanian”

Ceritaku membuat matanya berbinar. “Prospek arsitek masih bagus”.

Barusan aku sadar, ini cerita kentang pekerjaan yang salah, karena pilihan orangtua. Sabar aja mas